Dalam melakukan aktivitas bercocok tanam di zaman sekarang  dapat dilakukan di mana saja, bahkan di lahan sempit sekalipun. Banyak metode praktis untuk bercocok tanam atau berkebun secara mudah, salah satunya adalah dengan teknik vertikultur.

Vertikultur merupakan suatu sistem budi daya pertanian yang dilakukan secara vertikal dengan menyusun tanaman secara bertingkat dari bawah ke atas. Vertikultur juga merupakan sistem penghijauan yang sangat sesuai dan direkomendasikan untuk daerah perkotaan dengan kondisi lahan yang terbatas. Vertikultur termasuk inovasi dalam bertani yang menghasilkan produk lebih bernilai.

Dengan teknik vertikultur, media tanam bisa ditanami sebanyak 20-30 tanaman (bahkan lebih) pada lahan yang hanya berukuran 50 x 50 cm saja. Teknik vertikultur bisa dilakukan menggunakan berbagai macam wadah (tempat media tanam) seperti pipa paralon, botol bekas, pot, polybag atau wadah lainnya.

Pada dasarnya teknik bercocok tanam vertikultur tidak jauh berbeda dengan bercocok tanam konvensional, hanya cara meletakkan/menyusun tanamannya saja yang berbeda. Tingkat kesulitan dalam bercocok tanam secara vertikultur tergantung pada teknik, sistem dan model yang digunakan.

Teknik bercocok tanam bertingkat ini biasanya digunakan untuk membudidayakan tanaman semusim, seperti sayuran. Tidak menutup kemungkinan jenis tanaman obat atau tanaman hias juga dapat ditanam.

Jenis tanaman yang dapat ditanam dengan teknik vertikultur ini adalah kangkung, bayam, sawi/pakcoy, bawang merah, tomat, cabai besar, cabai rawit, cabai hias, selada, kemangi, terung, pare dan lain sebagainya.

Dalam penanamannya, tanaman seperti cabai, selada dan sawi diletakkan dibagian paling atas karena membutuhkan sinar matahari yang cukup. Sedangkan tanaman jenis gingseng, seledri, serta kangkung bisa ditanam di bagian tengah atau bawahnya.

Untuk budi daya sayuran cara vertikultur ternyata hasil panennya tidak jauh berbeda dengan hasil tani di lahan. Buah cabai dapat dipetik hasilnya pada usia tiga bulan. Tanaman sawi atau selada bisa dipanen ketika umur 40 hari. Terong atau pare berbuah di usia tiga bulan. Begitu juga dengan bayam yang siap dipetik pada hari ke-28.

Dibandingkan dengan menggunakan teknik bercocok tanam yang lainnya, teknik vertikultur ini jelas memiliki keunggulan yang tak tertandingi. Tak heran jika banyak yang membudidayakan tanaman, terutama sayuran lebih memilih untuk menggunakan teknik ini.

Berikut adalah beberapa keunggulan yang dimiliki oleh teknik ini sebagai teknik bercocok tanam.

  • Hasil panen lebih berkualitas
  • Dapat dilakukan oleh siapa saja yang berminat
  • Mendukung pertanian organik
  • Proses pemeliharaan lebih mudah
  • Tidak membutuhkan lahan yang luas
  • Penghematan dalam penggunaan pupuk
  • Proses pemindahan lebih mudah
  • Memiliki nilai estetika yang lebih

Oh iya, apakah kamu berminat untuk mencoba menggunakan teknik tanam vertikultur?. jangan lupa ya bagikan informasi ini buat semuanya untuk menambah wawasan bahwa bertani itu nggak susah kok dilakukan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here